Kalimantan Selatan menyimpan kearifan lokal yang kental dengan nilai-nilai agraris, yang terlihat jelas dalam tradisi Aruh Baharin yang dirayakan oleh Suku Dayak Halong di Kabupaten Balangan. Upacara ini merupakan ritual besar yang dilaksanakan sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta atau Nining Bahatara atas keberhasilan panen padi di ladang. Aruh Baharin biasanya berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dengan melibatkan seluruh anggota komunitas adat. Tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara masyarakat Dayak dengan tanah tempat mereka berpijak, serta kesadaran mereka akan keberlangsungan ekosistem alam.
Salah satu keunikan dalam tradisi Aruh Baharin adalah adanya pementasan tarian sakral yang dilakukan oleh para pemimpin ritual yang disebut Balian. Selama upacara berlangsung, para Balian akan merapalkan doa-doa kuno sembari menari mengelilingi tempat pemujaan yang disebut Langgatan. Langgatan sendiri merupakan struktur kayu berhias yang berisi berbagai macam sesajen berupa hasil bumi, daging ternak, dan nasi ketan. Suasana mistis dan khidmat menyelimuti seluruh prosesi, di mana dipercaya bahwa kehadiran roh leluhur ikut memberkati perayaan tersebut agar panen di tahun berikutnya tetap melimpah dan dijauhkan dari serangan hama atau bencana.
Nilai sosial yang terkandung dalam tradisi Aruh Baharin adalah semangat gotong royong dan keadilan sosial. Seluruh warga desa saling bahu-membahu menyiapkan keperluan ritual, mulai dari mengumpulkan kayu bakar hingga memasak hidangan untuk menjamu tamu yang datang. Upacara ini juga menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi antar sub-suku Dayak di wilayah pegunungan Meratus. Selain itu, Aruh Baharin menjadi media pendidikan bagi generasi muda untuk mengenal jenis-jenis tanaman lokal dan cara menjaga kelestarian hutan, karena bagi masyarakat Dayak, hutan adalah gudang pangan yang harus dijaga kesuciannya melalui berbagai ritual adat.
Meskipun zaman telah berubah, menjaga tradisi Aruh Baharin tetap menjadi prioritas bagi masyarakat Balangan untuk menjaga jati diri mereka. Tantangan berupa masuknya modernisasi dan perubahan lahan pertanian menjadi tantangan nyata, namun kekuatan adat di Balangan masih sangat solid. Pemerintah daerah mulai menjadikan Aruh Baharin sebagai salah satu daya tarik wisata budaya unggulan untuk meningkatkan ekonomi lokal tanpa merusak nilai kesakralannya. Dengan mendokumentasikan setiap prosesi ritual ini, diharapkan kekayaan intelektual berupa doa-doa lisan dan tata cara adat tidak hilang ditelan zaman dan tetap menjadi bagian dari khazanah budaya Indonesia.
