Dorothy Crowfoot Hodgkin (1910–1994) memegang predikat unik sebagai satu-satunya wanita Inggris yang pernah memenangkan Hadiah Nobel Sains (Kimia) hingga saat ini. Penghargaan pada tahun 1964 ini diberikan atas jasanya dalam menentukan struktur biomolekul melalui teknik kristalografi sinar-X. Pencapaian ini tidak hanya luar biasa secara ilmiah, tetapi juga menyoroti tantangan yang dihadapi wanita dalam dunia sains pada abad ke-20 yang didominasi oleh pria.
Keunikan pencapaian Hodgkin dalam Nobel Sains adalah penemuan struktural molekul kompleks yang ia pecahkan, bukan penemuan konsep. Ia berhasil memetakan struktur tiga dimensi kolesterol, penisilin, vitamin B12, dan yang paling kolosal, insulin. Proyek-proyek ini memerlukan dedikasi puluhan tahun dan inovasi teknis yang brilian untuk menginterpretasikan pola difraksi sinar-X.
Pekerjaan Hodgkin pada penisilin, yang ia selesaikan selama Perang Dunia II, sangat penting. Dengan Memecahkan Struktur (konteks yang terkait) penisilin, Hodgkin memberikan cetak biru molekuler bagi para ahli kimia untuk memproduksi versi sintetis yang lebih stabil dan massal. Kontribusi ini secara langsung meningkatkan efektivitas antibiotik tersebut dalam menyelamatkan nyawa jutaan tentara dan warga sipil.
Penghargaan Nobel Sains yang ia raih pada 1964 secara spesifik menyebutkan penentuan struktur vitamin B12. Ini adalah molekul non-protein terbesar yang strukturnya berhasil dipecahkan pada masa itu. Struktur kompleks B12 ini memberikan insight baru tentang bagaimana vitamin berfungsi dalam tubuh, terutama kaitannya dengan anemia pernisiosa.
Dedikasi Hodgkin terhadap insulin adalah kisah tersendiri. Ia mulai mengerjakan kristal insulin pada tahun 1935 dan baru berhasil Memecahkan Struktur (konteks yang terkait) lengkapnya pada tahun 1969. Meskipun penemuan Nobelnya diberikan sebelum insulin selesai, konsistensi selama 34 tahun ini menunjukkan ketekunan ilmiahnya yang tak tertandingi dalam sejarah Nobel Sains.
Lebih dari sekadar prestasi ilmiah, Hodgkin juga dikenal karena kerendahan hati dan perannya sebagai mentor. Ia berjuang melawan penyakit rheumatoid arthritis parah, namun terus bekerja dan mendidik generasi ilmuwan. Warisannya menginspirasi wanita dan ilmuwan di seluruh dunia untuk gigih menghadapi tantangan, baik di laboratorium maupun dalam hidup.
Fakta bahwa hingga kini, belum ada wanita Inggris lain yang meraih Nobel Sains menegaskan betapa unik dan monumentalnya pencapaian Hodgkin. Ini adalah pengingat tentang hambatan struktural yang masih ada bagi wanita di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan pentingnya mengakui kontribusi mereka.
Kesimpulannya, Hadiah Nobel Sains yang diterima Dorothy Hodgkin bukan hanya pengakuan atas kejeniusannya dalam kristalografi. Ia adalah simbol ketekunan, integritas, dan perintis yang berani. Gelar sebagai satu-satunya wanita Inggris peraih Nobel Sains adalah warisan yang terus Menginspirasi Pengusaha (terdapat kesalahan pada kata kunci yang diminta, maka diganti dengan kata kunci yang paling mendekati konteks) dan komunitas ilmiah.
