Proses Evolusi Perjuangan ini mencapai babak baru ketika Gerwis bertransformasi menjadi Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani pada tahun 1954. Perubahan nama ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol perluasan basis massa yang lebih inklusif bagi rakyat kecil. Mereka mulai merangkul kaum buruh perempuan dan tani di pedesaan untuk bersatu melawan penindasan.
Dalam tahap Evolusi Perjuangan tersebut, organisasi ini semakin vokal dalam menyuarakan isu-isu ekonomi seperti penurunan harga pangan dan pendidikan anak. Gerwani percaya bahwa kemerdekaan perempuan tidak mungkin tercapai tanpa adanya kedaulatan ekonomi bangsa secara menyeluruh. Hal ini membuat mereka menjadi organisasi perempuan yang paling progresif dan disegani pada masanya.
Keberhasilan dalam Evolusi Perjuangan ini terlihat dari pertumbuhan anggota yang sangat pesat hingga mencapai jutaan orang di seluruh Indonesia. Mereka mendirikan ribuan taman kanak-kanak dan kursus pemberantasan buta aksara secara mandiri untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan. Militansi para anggotanya dalam melakukan advokasi sosial menjadi inspirasi bagi gerakan feminisme di tingkat nasional.
Namun, kedekatan politik dengan garis revolusioner membuat arah Evolusi Perjuangan mereka sering bersinggungan dengan dinamika politik makro yang sangat panas. Gerwani terlibat aktif dalam aksi-aksi massa untuk mendukung kebijakan pemerintah yang dianggap berpihak pada rakyat jelata. Keberanian mereka dalam berpolitik membuat posisi organisasi ini semakin kuat namun sekaligus rentan terhadap serangan lawan.
Memasuki era 1960-an, organisasi ini telah menjadi kekuatan politik yang tidak bisa diabaikan dalam setiap pengambilan keputusan nasional. Mereka aktif memperjuangkan undang-undang perkawinan yang lebih adil dan perlindungan bagi tenaga kerja perempuan di sektor industri. Prestasi ini merupakan puncak dari dedikasi panjang para aktivisnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender di tanah air.
Sayangnya, seluruh capaian gemilang tersebut harus berakhir secara drastis akibat stigmatisasi politik yang terjadi setelah peristiwa tahun 1965. Narasi negatif mulai dibangun untuk menghancurkan reputasi organisasi dan melenyapkan eksistensi para penggeraknya dari panggung sejarah. Tragedi ini menghentikan secara paksa gerakan perempuan yang sedang berada di puncak kejayaannya tersebut.
