Kesenian Banjar di Kalimantan Selatan memiliki kekayaan yang sangat khas, terutama pada musik Panting yang melodi petikannya begitu merdu dan menenangkan. Alat musik ini biasanya dimainkan secara berkelompok dalam mengiringi berbagai pertunjukan tradisional seperti teater rakyat yang dikenal sebagai Mamanda. Struktur lakon Mamanda sendiri menggabungkan unsur komedi, musik, dan sastra lisan yang sangat menarik bagi masyarakat setempat. Mempelajari musik Panting memerlukan keahlian jari yang lincah untuk memetik senar secara konsisten sesuai dengan alur cerita yang sedang dibawakan di atas panggung pertunjukan yang sangat meriah.
Dalam sebuah pementasan Mamanda, alunan musik Panting menjadi jiwa yang menghidupkan suasana emosional bagi setiap karakter yang muncul di depan penonton. Setiap babak dalam lakon memiliki pola petikan yang berbeda, mulai dari irama yang ceria hingga nada yang melankolis sesuai dengan situasi cerita. Para pemain musik harus mampu berkomunikasi melalui bahasa isyarat dengan para pemeran teater agar ritme musik tetap selaras dengan dialog yang diucapkan. Inilah bentuk kolaborasi seni yang sangat harmonis dan memerlukan latihan intensif yang rutin di antara para seniman agar tercipta harmoni yang benar-benar memukau banyak penonton.
Untuk dapat memainkan musik Panting dengan baik, pemula disarankan untuk mulai berlatih dari teknik dasar memetik yang stabil sebelum mencoba berbagai pola melodi yang lebih kompleks. Menguasai alat musik ini juga berarti mempelajari sejarah Banjar yang terukir dalam setiap dentuman senarnya yang khas. Banyak komunitas budaya di Kalimantan Selatan kini membuka kelas pelatihan agar kesenian ini tetap diminati oleh kaum muda dan tidak punah oleh perkembangan zaman. Dengan cara ini, warisan seni Banjar akan terus lestari dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat hingga waktu yang tak terbatas nantinya.
Namun, tantangan dalam melestarikan seni ini adalah mulai minimnya pengrajin yang mampu membuat alat musik dengan kualitas suara yang sangat prima dan autentik. Perlu adanya perhatian dari instansi terkait untuk memberikan bantuan modal bagi para perajin agar mereka tetap semangat dalam memproduksi alat musik tradisional ini. Selain itu, pementasan Mamanda harus lebih sering ditampilkan di berbagai ajang festival seni agar nilai edukasi dan hiburannya bisa sampai ke masyarakat lebih luas. Mari kita jaga api semangat seni tradisi ini dengan memberikan ruang bagi para seniman lokal untuk terus berkreasi dan berkarya secara maksimal.
Kesimpulannya, seni tradisional adalah aset berharga yang mencerminkan jati diri sebuah bangsa dan harus terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya kita bersama. Dengan memahami teknik musik dan struktur teater rakyat, kita telah ikut berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian budaya Banjar yang luar biasa ini. Mari kita bangga dengan kesenian daerah sendiri dan terus memperkenalkannya kepada generasi muda agar mereka tetap memiliki rasa cinta tanah air. Jadikan seni sebagai alat untuk mempersatukan keberagaman bangsa melalui pertunjukan yang edukatif dan sangat menghibur bagi semua orang yang menyaksikannya setiap saat.
